ISLAM DAN PERADABAN DUNIA
ISLAM
& PERADABAN DUNIA
(oleh: Mas Jay)
Demikian Islam telah menorehkan tinta emas pada sejarah
kehidupan umat manusia. Dan sebagaimana Islam yang datang sebagai rahmatan
lil ‘alamin, sehingga Islam mampu berdiri tegak pada setiap masa dan kurun
waktu. Realitas spiritual dan metahistorikal yang mentransformasi kehidupan
lahir dan batin dari beragam manusia di dalam situasi temporal maupun ruang
yang berbeda. Dan secara historis Islam telah memainkan peran yang signifikan
dalam perkembangan beberapa aspek pada peradaban dunia. Dengan pernyataan
diatas, memungkinkan adanya pertanyaan “Bagaimanakah Islam mempengaruhi
peradaban dunia?”
Sekilas tentang peradaban Islam dan periode kejayaan peradaban
Islam. Peradaban Islam adalah bagian-bagian dari kebudayaan Islam yang meliputi
berbagai aspek seperti moral, kesenian, dan ilmu pengetahuan, serta meliputi
juga kebudayaan yang memilliki sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa,
sistem kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang luas. Dengan kata lain peradaban
Islam bagian dari kebudayaan yang bertujuan memudahkan dan mensejahterakan hidup
di dunia dan di akhirat. Sejalan dengan pengertian tersebut, Islam dalam
menegakkan peradabannya tidak hanya memandang satu sisi kehidupan dunia dengan
pencapaian kebudayaan yang dapat memajukan peradabannya, akan tetapi juga
memperhatikan prinsip pencapaian kebahagiaan kehidupan akhirat, dengan
memberikan ajaran dengan cara berkehidupan yang bermoral dan santun dalam
memandang keberagaman dunia.
Dalam memahami peradaban Islam, amat penting untuk mengingat
tidak hanya keragaman seni dan ilmu pengetahuan, tetapi juga keragaman
interpretasi teologis dan filosofis pada doktrin-doktrin Islam, bahkan pada
bidang hukum Islam. Tidak ada kesalahan yang serius daripada pendapat yang
menegaskan bahwa Islam adalah realitas yang seragam, dan peradaban Islam tidak mengapresiasi
ciptaan atau eksistensi beragam. Meskipun kesan adanya keseragaman sering
mendominasi segala hal yang berkaitan dengan Islam, sisi keragaman di bidang
interpretasi agama itu sendiri selalu ada, sebagaimana juga terdapat aspek
beragam pada pemikiran dan kultur Islam. Akan tetapi, Nabi Muhammad saw sebagai
pembawa ajaran Islam, menganggap bahwa keragaman pendapat para pemikir Muslim
adalah sebuah karunia Tuhan. Namun dengan segala keberagamannya tersebut, masih
saja terlihat kesatuan yang amat mengagumkan tetap mempengaruhi peradaban
Islam, sebagaimana hal tersebut telah mempengaruhi agama yang melahirkan
peradaban itu, dan membimbing alur sejarahnya selama berabad-abad.
Demikianlah Islam dengan ajaran suci dan universal
sebagaimana yang telah diwahyukan, mengalami perkembangan dari masa ke masa.
Adapun penyebaran Islam dan torehan peradabannya ke penjuru dunia, tak kan
lepas dari metode dan sistem penyebarannya, mulai dari perdagangan,
korespondensi (seperti yang dilakukan Rasulullah dengan mengirim surat kepada
para raja Mesir, Persia, dll.), diplomasi politik, sampai pada peperangan
perebutan kekuasaan dan pendudukan wilayah.
Sedangkan periode penyebaran Islam dan peradabannya yang
dimulai sejak masa Rasulullah saw pada abad ke-6 M hingga saat ini, terdapat
masa-masa kejayaan peradaban Islam yang kemudian diwarisi oleh peradaban dunia.
Dan pereodisasi peradaban Islam tersebut, secara umum terbagi menjadi 3 (tiga)
periode, yang antara lain :
1. Periode klasik
Pada masa ini merupakan masa ekspansi, integrasi dan
keemasan Islam. Sebelum wafatnya Nabi Muhammad saw (632 M), seluruh semenanjung
Arabia telah tunduk ke bahwah kekuasaan Islam, yang kemudian dilanjutkan dengan
ekspansi keluar Arabia pada masa khalifah pertama Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga
berlanjut pada kekhalifahan berikutnya.
Pencapaian kemenangan Islam pada masa ini adalah dapat
dikuasainya Irak pada tahun 634 M, yang kemudian meluas hingga Suria, kemudian
pada masa Umar bin Khattab, Islam mampu menguasai Damaskus (635 M) dan tentara
Bizantium di daerah Syiria pun ditaklukkan pada perang Yarmuk (636 M),
selanjutnya menjatuhkan Alexandria (641 M) dan menguasai Mesir dengan tembok
Babilonnya pada masa itu. Dan kekuasaan Islampun meluas hingga Palestina,
Syiria, Irak, Persia dan Mesir. Pada masa khalifah Utsman bin Affan, Tripoli
dan Ciprus pun tertaklukkan. Walaupun setelah itu terjadi keguncangan politik
pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, hingga wafatnya.
Kekhalifahan berlanjut pada kekuasaan Bani Umayyah, yang
pada masa ini kekuasaan Islam semakin meluas, berawal dti Tunis, Khurasan,
Afganistan, Balkh, Bukhara, Khawarizm, Farghana, Samarkand, Bulukhistan, Sind,
Punjab, dan Multan. Bukan hanya itu, perluasan dilanjutkan ke Aljazair dan
Maroko, bahkan telah membuka jalan ke kawasan Eropa yaitu Spanyol, dan
menjadikan Cordova sebagai ibu kota Islam Spanyol. Lebih ringkasnya, pada masa
dinasti ini kekuasaan Islam telah menguasai Spanyol, Afrika Utara, Syiria,
Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagaian dari Asia Kecil, Persia,
Afganistan, Pakistan, Turkmenia, Uzbek, dan Kirgis (di Asia Tengah).
Sejak kedinastian Bani Umayyah, peradaban Islam mulai
menampakkan pamor keemasannya. Walaupun Bani Umayyah lebih memusatkan
perhatiannya pada kebudayaan Arab. Benih-benih peradaban baru tersebut antara lain
perubahan bahasa administrasi dari bahasa Yunani dan Pahlawi ke bahasa Arab,
dengan demikian bahasa Arab menjadi bahasa resmi yang harus dipelajari, hingga
mendorong Imam Sibawaih menyusun Al-Kitab yang menjadi pedoman dalam
tata bahasa Arab.
Pada saat itu pula (± abad ke-7 M), bermunculan
sastrawan-sastrawan Islam, dengan berbagai karya besar antara lain sebuah novel
terkenal Laila Majnun yang ditulis oleh Qais al-Mulawwah. Lain dari pada
itu, dengan adanya pusat kegiatan ilmiah di Kufah dan Basrah, bermunculan ulama
bidang tafsir, hadits, fiqh, dan ilmu kalam.
Pada bidang ekonomi dan pembangunan, Bani Umayyah di bawah
pimpinan Abd al-Malik, telah mencetak alat tukar uang berupa dinar dan dirham.
Sedangkan pembangunan yang dilakukan adalah pembangunan masjid-masjid di
Damaskus, Cordova, dan perluasan masjid Makkah serta Madinah, termasuk al-Aqsa
di al-Quds (Yerussalem), juga pembangunan Monumen Qubbah as-sakhr, juga
pembangunan istana-istana untuk tempat peristirahatan di padang pasir, seperti Qusayr
dan al-Mushatta.
Setelah kekuasaan Bani Umayyah menurun, dan ditumbangkan
oleh Bani Abbasiyah pada tahun 750 H, kembali Islam dengan perkembangan
peradabannya terus menerus bergerak pada kemajuan. Di masa al-Mahdi,
perekonomian mengalami peningkatan dengan konsep perbaikan sistem pertanian
dengan irigasi, dan juga pertambangan emas, perak, tembaga dan lainnya yang
juga meningkat pesat. Bahkan perekonomian menjadi lebih baik setelah dibukanya
jalur perdagangan dengan transit antara timur dan barat, dengan Basrah sebagai
pelabuhannya.
Masa selanjutnya pada masa Harun al-Rasyid, kehidupan sosial
pun menjadi lebih mapan dengan dibangunnya rumah sakit, pendidikan dokter, dan
farmasi. Hingga Baghdad pada masa itu mempunyai 800 orang dokter. Dilanjutkan pada
masa al-Makmun yang lebih berkonsenrasi pada pengembangan ilmu pengetahuan,
dengan menerjemahkan buku-buku kebudayaan Yunani dan Sansekerta, dan
berdirinya Baitu-l-hikmah sebagai pusat kegiatan ilmiahnya. Yang disusul
kemudian dengan berdirinya Universitas Al-Azhar di Mesir. Juga dibangunnya
sekolah-sekolah, hingga Baghdad menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Maka, tak dapat dipungkiri lagi bahwa masa-masa ini dikatakan sebagai the
golden age.
Kemajuan keilmuan dan teknologi Islam mengalami masa
kejayaan di masa ini. Munculnya para ilmuwan, filosof dan cendekiawan Muslim
telah mewarnai penorehan tinta sejarah dunia. Islam bukan hanya menguasai ilmu
pengetahuan dan filsafat yang mereka pelajari dari buku-buku Yunani, akan
tetapi menambahkan ke dalam hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri
dalam lapangan sains dan filsafat. Tokoh cendekiawan Muslim yang terkenal
adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi sebagai metematikawan yang telah
menelurkan aljabar dan algoritma, al-Fazari dan al-Farghani sebagai ahli
astronomi (abad ke VIII), Abu Ali al-Hasan ibnu al-Haytam dengan teori optika
(abad X), Jabir ibnu Hayyan dan Abu Bakar Zakaria ar-Razi sebagai tokoh kimia
yang disegani (abad IX), Abu Raihan Muhammad al-Baituni sebagai ahli fisika
(abad IX), Abu al-Hasan Ali Mas’ud sebagai tokoh geografi (abad X), Ibnu
Sina sebagai seorang dokter sekaligus seorang filsuf yang sangat berpengaruh
(akhir abad IX), Ibnu Rusyd sebagai seorang filsuf ternama dan terkenal di
dunia filsafat Barat dengan Averroisme, dan juga al-Farabi yang juga seorang
filsuf Muslim.
Selain sains dan filsafat pada masa ini juga bermunculan
ulama besar tentang keagamaan dalam Islam, seperti Imam Muslim, Imam Bukhari,
Imam Malik, Imam Syafi’I, Abu Hanifah, Ahmad bin Hambal, serta mufassir
terkenal ath-Thabari, sejarawan Ibnu Hisyam dan Ibnu Sa’ad. Masih adalagi yang
bergerak dalam ilmu kalam dan teologi, seperti Washil bin Atha’, Ibnu
al-Huzail, al-Allaf, Abu al-Hasan al-Asyari, al-Maturidi, bahkan tokoh tasawuf
dan mistisisme seperti, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husain bin
Mansur al-Hallaj, dan sebagainya. Di dunia sastra pun mengenalkan Abu al-Farraj
al-Asfahani, dan al-Jasyiari yang terkenal melalui karyanya 1001 malam,
yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia.
2. Periode pertengahan
Pada periode ini, terdapat periode kemunduran Islam pada
sekitar 1250-1500 M. Yang mana satu demi satu kerajaan Islam jatuh ke tangan
Mongol, dan kerajaan Islam Spanyol pun mampu ditaklukkan oleh raja-raja
Kristen yang bersatu, hingga orang-orang Islam Spanyol berpindah ke kota-kota
di pantai utara Afrika.
Namun dengan demikian, terdapat kebangkitan kembali
kedinastian Islam pada masa 1500-1800 M. Di sana terdapat 3 kerajaan besar,
yang menjadi tonggak bejayanya peradaban Islam yang ke-2. Kerajaan besar
tersebut adalah Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi Persia, dan Kerajaan
Mughal di India.
Karajaan Turki Usmani berhasil mengambil alih Bizantium dan
menduduki Konstantinopel (Istambul). Hingga akhirnya kekuasaan Turki Usmani
mampu menguasai Asia Kecil, Armenia, Irak, Syiria, Hijaz, Yaman, Mesir, Libya,
Tunis, Aljazair, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania.
Sedangkan di tempat lain, Persia Islam bangkit dengan dengan
Kerajaan Safawi (1252 M), dengan dinasti yang berasal dari Azerbaijan Syaikh
Saifuddin yang beraliran Syi’ah. Kekuasaannya menyeluruh hingga seluruh Persia.
Dan berbatasan dengan kekuasaan Usmani di barat dan kerajaan Mughal di kawasan
timur.
Kerajaan Mughal di India, yang berdiri pada tahun 1482 M
dengan pendirinya Zahirudin Babur. Kekuasaannya mencakup Afganistan, Lahore,
India Tengah, Malwa dan Gujarat. Di India, bahsa Urdu akhirnya menjadi bahasa
kerajaan menggantikan bahasa Persia. Dan kemajuannya telah membuat beberapa
bukti peninggalan sejarah antara lain, Taj Mahal, Benteng Merah, masjid-masjid,
istana-istana, dan gedung-gedung pemerintahan di Delhi.
Akan tetapi pada masa kemajuan ini, ilmu pengetahuan tidak
banyak diberikan perhatian, namun perhatiannya terhadap seni dalam berbagai
bentuk adalah sangat besar, sehingga kerajaan Usmani mendapatkan julukan the
patron of art. Ketiga kerajaan besar tersebut lebih banyak memperhatikan
bidang politik dan ekonomi. Sedangkan di Barat, mulai menuai kebangkitan dengan
melihat jalur yang terbuka ke pusat rempah-rempah dan bahan-bahan mentah dari
daerah Timur Jauh melaui Afrika Selatan.
Hingga pada Abad ke-17, di eropa mulai mencul negara-negara
kuat, bahkan Rusia mulai maju di bawah Peter Yang Agung. Dan melalui
peperangan, Usmani mengalami kekalahan. Dan Safawi Persia pun ditaklukkan oleh
Raja Afghan yang mempunyai perbedaan faham. Dan kerajaan Mughal India pecah
dikarenakan terjadi pemberontakan dari kaum Hindu, bahkan Inggris pun berperan
menguasainya pada tahun 1857 M.
3. Periode Modern
Periode ini dikatakan sebagai periode kebangkitan Islam,
yang mana dengan berakhirnya ekspedisi Napoleon di Mesir, telah membuka mata
umat Islam akan kemunduruan dan kelemahannya di samping kemajuan dan kekuasaan
Barat. Raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berpikir mencari jalan keluar untuk
mengembalikan keseimbangan kekuatan, yang telah pincang dan membahayakan umat
Islam. Sebab Islam yang pernah berjaya pada masa klasik, kini berbalik menjadi
gelap. Bangsa Barat menjadi lebih maju dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan
peradabannya.
Dengan demikian, timbullah pemikiran dan pembaharuan dalam
islam yang disebut dengan modernisasi dalam Islam. Sekian tokoh pembaharu Islam
telah mengeluarkan buah pikirannya guna membuat umat Islam kembali maju
sebagaimana pada periode klasik. Para tokoh tersebut antara lain, Muhammad bin
Abdul Wahab di Arab, Muhammad Abduh, Jamaludin al-Afghani, Muhammad Rasyid
Ridha di Mesir, Sayyid Ahmad Khan, Syah Waliyullah, dan Muhammad Iqbal di
India, Sultan Mahmud II dan Musthafa Kamal di Turki, dan masih banyak lagi yang
lainnya.
Transformasi peradaban Islam kepada
peradaban dunia.
Sekian lamanya Islam melakukan penyebaran ajarannya, hingga
lebih dari 14 abad lamanya. Tentunya dari masa perjuangan tersebut telah
menorehkan banyak hasil yang dapat dirasakan oleh dunia saat ini walaupun sudah
tidak ada lagi kekuasaan Islam yang mutlak. Karena Islam dalam ekspansinya,
tidak hanya mengambil keuntungan materi dari daerah yang dapat dikuasai,
melainkan ikut membangun dan memajukan peradaban yang ada dan tetap toleran
terhadap budaya lokal yang ada.
Para tokoh Islam klasik yang telah membangun peradaban di
masa itu, dan tidak dilakukan oleh orang-orang barat pada masa kegelapan,
adalah dengan mempelajari dan mempertahankan peradaban yunani kuno, serta
mengembangkan buah pemikirannya untuk menemukan sesuatu yang baru dari segi
filsafat dan ilmu pengetahuan. Seorang pemikir orientalis barat Gustave Lebon,
dan telah diterjemahkan oleh Samsul Munir Amin, mengatakan bahwa “(orang
Arablah) yang menyebabkan kita mempunyai peradaban, karena mereka adalam imam
kita selama enam abad”.
Hingga peradaban Islam telah memberi kontribusi besar dalam
berbagai bidang khususnya bagi dunia Barat yang saat ini diyakini sebagai pusat
peradaban dunia. Kontribusi besar tersebut antara lain :
1.
Sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya kaum Muslim dalam
bidang filsafat, sains, dan sebagainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Latin, khususnya dari Spanyol. Penerjemahan ini sungguh telah memperkaya
kurikulum pendidikan dunia Barat.
2. Kaum
muslimin telah memberi sumbangan eksperimental mengenai metode dan teori sains
ke dunia Barat.
3. Sistem
notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah dikenalkan ke dunia barat.
4. Karya-karya
dalam bentuk terjemahan, kususnya karya Ibnu Sina (Avicenna) dalam bidang
kedokteran, digunakan sebagai teks di lembaga pendidikan tinggi sampai
pertengahan abad ke-17 M.
5. Para
ilmuwan muslim dengan berbagai karyanya telah merangsang kebangkitan Eropa,
memperkaya dengan kebudayaan Romawi kuno serta literatur klasik yang pada
gilirannya melahirkan Renaisance.
6.
Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa
bangkit dalam bentuk ratusan madrasah adalah pendahulu universitas yang ada di
Eropa.
7. Para
ilmuwan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-Persi
(Greco Helenistic) sewaktu Eropa dalam kegelapan.
8. Sarjana-sarjana
Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam dan mentransfer ilmu
pengetahuan ke dunia Barat.
9. Para
ilmuwan Muslim telah menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit, sanitasi,
dan makanan kepada Eropa.
Pada kondisi-kondisi tersebut, terutama pada abad ke-11 dan
ke-12, walaupun tradisi Islam yang diboyong ke Barat masih belum terjadi
pemisahan yang jelas antara ilmu-ilmu yang ada dan ketika itu ilmu kalam,
filsafat, tasawuf, ilmu alam, matematika, dan ilmu kedokteran masih bercampur.
Akan tetapi Islam telah mampu mendamaikan akal dengan iman dan filsafat dengan
agama. Sedangkan bangsa Barat pada masa itu masih terdapat stereotipe
yang memisahkan antara akal dan iman serta filsafat dan agama. Hal ini juga
terjadi pada ilmu pengetahuan dan ilmu alam, yang mana Islam telah berjasa menyatukan
akal dengan alam, menetapkan kemandirian akal, menetapkan keberadaan hukum alam
yang pasti, dan keserasian Tuhan dengan alam.
Hingga akhirnya filsafat skolastik Barat mencapai puncaknya
yang telah didukung oleh adanya pilar Islam dengan dibangunnya akademi-akademi
di Eropa yang diadopsi dari gaya akademi di kawasan Timur. Hal ini merupakan
evolusi dari illuminisme biara ke kegiatan pemikiran yang dialihkan kesekolahan
dan akademi. Dan kurikulum yang diajarkan adalah filsafat lama, dan ilmu-ilmu
Islam terutama Averoisme Paris. Pada saat yang sama terjadi perubahan
kecenderungan pemikiran dari kesenian dan kasusatraan ke gramatika dan logika,
dari retorika ke filsafat dan pemikiran, dan dari paganisme kesusastraan Latin
ke penyucian Tuhan sebagai pemikiran Islam.
Demikianlah sumbangan besar Islam atas peradaban dunia
Barat, yang selanjutnya jusru dijadikan sebagai pusat peradaban dunia pada saat
ini. Hal ini dikarenakan kekonsistensian dunia Barat dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologinya. Bahkan karya-karya besar para ilmuwan Muslim
tersebut hingga kini masih dapat kita teukan di perpustakaan-perpustakaan
internasional, khususnya di Amerika, yang secara profesional dan rapi telah
menyimpannya. Sehingga para umat Muslim di masa kini, yang ingin mempelajari
lebih banyak tentang khasanah Islam tersebut, harus pergi ke negara Barat (non
Islam) agar dapat meminta kembali “permata” yang sementara ini telah mereka
Komentar
Posting Komentar