PENYAKIT HATI
PENYAKIT HATI
(Oleh : Mas Jay)
Penyakit hati itu sungguh berbahaya,
karena dampaknya sangatlah buruk:
- Berdosa, terancam siksa di Neraka
- Bisa mendatangkan adzab
- Merugikan dan membuat risih orang lain
- Kadang bisa membuat fisik sendiri juga jadi sakit
- Dan masih banyak lagi
Maka dari itu, pentinglah kita
ketahui apa saja penyakit hati itu, agar kemudian bisa kita cegah. Nah,
setidaknya, ada 7 penyakit hati yang lumayan mengerikan. Berikut ini dia.
1. Takabbur (sombong)
Ngerinya sombong ini, dia bisa jadi kita sadari atau tidak.
Sudah begitu, nyata-nyata meresahkan orang lain. Misalnya, tatkala ada
seseorang yang hendak menasehati kita, tapi kita malah menolaknya. Kita
manganggap diri kita sudah benar, hebat, dan pintar; tidak ada yang salah sama
sekali. Jadi tidak perlu mendengarkan apa-apa masukan dari orang lain. Karena
orang lain itu kebanyakan salah, bodoh, dan tidak berguna. Padahal, bisa jadi
itu hanya anggapan saja, bukan realita.
Sombong prakteknya bisa bermacam-macam. Namun intinya sombong
itu adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran.
Beberapa contoh orang-orang sombong yang dimusnahkan oleh
Allah diantaranya adalah: Firaun, Raja Namrud, Qarun, dan lain-lain.
Allah SWT berfirman: Janganlah kalian berjalan di muka bumi dengan penuh
kesombongan (QS al-Isra’ [17]: 37).
Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Itulah kampung akhirat
yang Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di muka
bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Akibat kebaikan itu adalah bagi kaum
yang bertakwa (QS al-Qashash [28]: 83).
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk Surga orang
yang di dalam kalbunya ada sikap sombong meski sebesar biji sawi.”
Bagi mereka yang mengidap penyakit sombong, sebenarnya cara
agar sembuhnya agak mudah. Yaitu, cukup ‘buka mata’ saja untuk melihat fakta.
Karena kerapnya orang yang sombong itu adalah mereka yang tak melihat fakta
bahwa sejatinya dirinya tidak seperti yang ia khayalkan.
2. Riya’
Orang yang riya ’ itu dia memperlihatkan suatu amal sholeh
kepada sesama manusia. Misalnya:
Ø Ada seseorang
yang dia itu sholatnya jadi diperbagus dan diperpanjang hanya bila
dilihat oleh orang lain. Supaya orang lain melihatnya. Kalau orang lain
sedang tidak ada, maka sholatnya asal-asalan.
Ø Merekayasa
penampilan dan tampang yang seolah islami, supaya orang lain menganggap
dirinya alim.
Ø Tiba-tiba
mendadak jadi melakukan amal sholeh setelah dia telah melakukan hal yang buruk,
namun tujuannya supaya citra dirinya jadi bagus di pandangan orang lain. Bukan
karena semata-mata untuk mendekatkan diri pada Allah.
Pengertian Riya Menurut Istilah adalah melakukan ibadah,
dengan niat ingin nantinya dipuji manusia, dan tidak berniat beribadah kepada
Allah semata. Menurut Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitabnya
Fathul Baari berkata: “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat
manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu”.
Menurut Imam Al-Ghazali, riya’ adalah mencari kedudukan pada
hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan. Riya’ ini
bisa muncul kapan saja. Bisa saat sebelum beramal, ataupun saat sedang beramal.
“Janganlah
kalian menghilangkan pahala shadaqah kalian dengan menyebut-nyebutnya atau
menyakiti (perasaan si penerima) seperti orang yang menafkahkan hartanya karena
riya kepada manusia dan dia tidak berimana kepada Allah dan hari kemudian.”
(QS. Al-Baqarah: 264) “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang
yang lalai dari shalatnya, yang berbuat karena riya.” (QS. Al
Maa’uun 4-6)
3. Ujub
Ujub adalah sikap mengagumi diri sendiri, karena merasa
lebih dari yang lain. Berbangga diri gitu. Mungkin agak mirip dengan takabbur.
Namun kalau ujub, belum tentu sambil berkeyakinan menolak kebenaran. Kalau
menurut Imam Al-Ghazali, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada
suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya
kepada Alloh.”
Meski tentu tidak selalu, namun bisa jadi seseorang itu
menjadi ujub karena dipicu oleh:
Ø Mendapatkan
banyak pujian-pujian dari orang lain
Ø Banyak berhasil
beberapa kali
Ø Memiliki
wewenang besar dan langka, yang bila dimanfaatkan akan sangat memudahkan
yang biasanya sulit
Ø Terkenal
Ø Memiliki banyak
pengetahuan
Ø Fisik dan
penampilan yang baik dan menarik
Ø Dan lain-lain…
Yang pasti, ujub itu terjadi bila telah berhenti
dari berdzikir kepada Allah. “Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di
antaranya.” (QS. Al Maidah: 120). Rasulullah Saw bersabda, “Tiga hal yang
membinasakan: Kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang diumbar, dan
kekaguman seseorang pada dirinya sendiri.” (HR. Thabrani)
4. Sum’ah
Kata “sum’ah” berasal dari kata “samma’a”, yang artinya secara
bahasa adalah “memperde-ngarkan”. Sedangkan definisinya secara
istilah, sum’ah adalah sikap seorang muslim yang membicarakan atau
memberitahukan amal shalihnya -yang sebelumnya tidak diketahui atau
tersembunyi- kepada manusia lain, agar dirinya mendapatkan kedudukan dan/atau
penghargaan dari mereka, atau mengharapkan keuntungan materi. mungkin sebagian
dari Anda ada yang bingung, terus bedanya apa antara sum’ah ini dengan riya
yang sebelumnya?
Dalam kitab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani ada mengetengahkan
pendapat Izzudin bin Abdussalam yang membedakan antara riya dan sum’ah. Bahwa
riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah; sedangkan sum’ah
adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah, namun ia
bicarakan hal tersebut kepada manusia.
Sehingga, menurut beliaiu, semua riya itu termasuk perbuatan
tercela. Sedangkan sum’ah, bisa jadi termasuk amal terpuji jika ia melakukannya
karena Allah dan untuk memperoleh ridha-Nya, dan tercela jika dia
membicarakan amalnya di hadapan manusia. Dalam Al-Qur’an Allah telah
memperingatkan tentang sum’ah dan riya ini: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia…” (QS. Al-Baqarah : 264). Rasulullah Saw juga
memperingatkan dalam haditsnya, “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh
Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.”
(HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maksudnya adalah,
diumumkan aib-aibnya di akhirat. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya
diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya.
5. Hasad
Hasad adalah merasa iri dengki pada kenikmatan dan
kelebihan orang lain, disertai harapan agar semua itu hilang dari orang lain
itu. Baik disertai harapan agar berpindah kepada dirinya, atau pokoknya asal
lenyap saja. Hasad hukumnya haram, baik dalam hal duniawi atau hal
agama. Apalagi kalau hasad itu disertai tindakan, perbuatan, atau
ucapan, langsung atau tidak langsung, agar kenikmatan/kelebihan itu hilang dari
pemiliknya.
Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw pernah
bersabda: “Janganlah
kalian saling dengki, jangan saling menipu, jangan saling menjauhi, dan jangan
sebagian kalian membeli di atas pembelian yang lain. Jadilah kalian
sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara
bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzaliminya, enggan membelanya,
membohonginya dan menghinanya. Takwa itu di sini—Rasul menunjuk dada
beliau tiga kali. Keburukan paling keterlaluan seseorang adalah ia menghina
saudaranya yang Muslim. Setiap Muslim atas Muslim lainnya itu haram
darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR Muslim dan Ahmad)
6. Taqtir
Taqtir itu artinya terlalu pelit. Tidak mau mengeluarkan
harta, padahal wajib. Imam Ibnu Jauzi dalam kitabnya at-thibbu ar-ruhi
mendefinisikan kikir sebagai sifat enggan menunaikan kewajiban, baik harta
benda ajau jasa. Kikir ini termasuk penyakit hati yang sangat membahayakan. Apalagi
kalau semakin banyak orang yang seperti ini, bisa-bisa semasyarakat akan
hancur. Lantaran, tiap orang memang punya hak dari orang lain. Kalau itu
ditahan, maka kebutuhan orang akan macet. Namun tentu alasan utamanya adalah
karena bila kewajiban ditahan, maka Allah akan murka, sehingga sulit bahkan
bisa saja mustahil mendapat berkah. Rasulullah Saw bersabda: “Seburuk-buruk sifat yang
ada pada seseorang adalah sifat pelit yang sangat pelit dan sifat pengecut yang
sangat pengecut.” (HR. Ahmad)
Maka, apabila kita termasuk orang yang seperti itu, hendaknya
kita menghilangkan
penyakit hati tersebut dengan cara merenungkan bagaimana
kondisi kita di Akhirat kelak bila sifat kikir itu dipelihara terus-terusan.
Malah bisa jadi balasan
buruknya bukan sekadar didapat di Akhirat, di Dunia pun bisa jadi
dapat juga.
“Sekali-kali
janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka
dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya
kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan
dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala
warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 180)
“Dan adapun
orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang
terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”
(QS. Al Lail: 8-10)
7. Panjang angan-angan
Orang yang terlalu panjang angan-angan pun berbahaya. Karena
dia mengerahkan segenap tenaganya, waktunya, dan uangnya untuk mengejar
keinginan-keinginannya; sembari melalaikan kewajibannya dan malah tak peduli
hal-hal yang diharamkan.
Orang seperti itu, seolah-olah atau memang menganggap dirinya
tak akan mati, atau matinya masih lama. Sehingga, dia tidak mempersiapkan bekal
untuk menghadapi hari Akhir.
Komentar
Posting Komentar